Sabtu, 13 April 2013 | By: Muhammad Fersi Nurul Haq

Saat Ku Tahu


Ku ambil selembar kertasnya 
Kan Ku tulis melalui penanya 
Ku rangkai setiap kata dalam goresan tintanya 
Luapan penat berat mengerat 
Tersandar sebuah harapan pukat 
Disetiap keras nadiku berdenyut 
Kucoba tuk tegarkan kaliptra menyekat 
Saat kakiku ini masih bisa tegak menganga sakit 
Kucoba tuk mengangkat,melangkah dan tertitah pekit 
Saat Kucoba tuk mengumpat 
Dan saat Kutahu hidup akan berakhir cepat 
Saat Kutergeletak,Kucoba tuk angkat 
Kucoba sambungkan tulang retak tak melekat 
Saat Kutahu badan ini tak bertopang kuat 
Kucoba rekatkan aliran nadi yang kian menyusut 
Saat Kutahu nadi ini tak lagi terakit 
Kucoba berbicara terbirit 
Saat Kutahu mulut ini bergetar,bergeming menggigit 
Kucoba membuka mata tuk lihat 
Saat Kutahu tak terkabul oleh takdirot 
Saat Kutahu sukma ini menghilang lebur tersendat 
Jiwa dan seluruh nafas ini mendarat
Seakan tak bernyawa dan larut
namun...Kini hanyalah selembar surat 
Yang Kutulis dalam sebuah penantian yang berujung penat 
Sebelum Ku ikrarkan dalam bahasa yang tak sempat 
Untuk terlanjut 

By.Fersi


0 komentar:

Posting Komentar